Kamis, 26 Januari 2017

Jamaah Tabligh, Dakwah Tanpa Pandang Madzhab

Ads Responsive

"Apapaun harokahmu, kami saudaramu" 

Tulisan di kaos yang populer pasca aksi 212 ini sebenarnya lebih tepat jika menggambarkan Jamaah Tabligh (JT) dibandingkan organisasi yang lain.

seperti "apapun makanannya, minumnya teh botol sosr*" itu secara prinsip lebih tepat menggambarkan air mineral dari pada teh. Tapi ya sudahlah, setiknya itu lebih aplikatif dari pada "apapun makanannya minumnya botol teh sosr*" kan bisa berabe.... Emangnya kuda lumping?

Secara teori organisasi itu harus punya 3 komponen, visi misi, anggota dan struktural. JT ini beda, visi misinya kuat dan anggotanya banyak, tapi struktur kepengurusannya tidak jelas, siapa ketua umumnya, siapa sekretarisnya dan siapa seksi-seksinya.? Jadi jangan cari Inem pelayan seksi di sana..... Ups ketahuan kalau yang bikin status sudah berumur...
Jamaah Tabligh, dakwah tanpa pandang madzhab

Tapi uniknya, organisasi ini eksis dan terus berkembang, kitab Fadaailul A'mal rupanya lebih kuat daya tariknya dari pada MOGEnya si Boy anak jalanan itu. (Untuk yang mata keranjang, lupakan Reva-nya, ini lagi serius).

Dakwah mereka bukan tanpa tantangan, dihina sana-sini, dicemooh dan dituduh mengabaikan keluarga. Sudah menjadi lauk pauk perjuangannya. tapi mereka tak kunjung menyerah. Bagi mereka apapun makanannya minumnya....... Aduh.... Kebablasan lagi....

Anehnya, Mereka melihara jenggot saja dibilang macam-macam kayak kambing lah, bodohlah, goblok lah dan ini itu lainnya. rupanya mereka lupa kalau kucing dan coro cuma kumisan gak jenggotan.
So kalau ada kiyai bilang "semakin lebat jenggotnya, semakin bodoh orangnya" anggap aja dia kianya kaum coro.

Saat perempuan mereka bercadar, dituduh ninja. semetara istri sendiri yang tidak berhijab mereka abaikan saja. om, ada AQ*A?

Konsistensi mereka juga luar biasa, saat mereka jaulah, mengajak sholat jamaah ke masjid, mereka bukan hanya ditolak, tapi dimarahi, diomel-omeli dan bahkan di intimedasi. Tapi mereka tidak menyerah, hari ini mereka pulang, tapi besok mereka kembali, terus begitu hingga yang ngomel-ngomel lelah sendiri dan menerima dakwahnya...

Persis seperti tetangga sebelah, habis ditolak perempuan dia tetap maksa, sms, BBM, komen status FBnya, ditelpon tengah malem hingga akhirnya entah kasihan atau karena ingin tidur nyenyak saya kurang tahu. Tapi tetanggaku diterima juga, eh,,, 2 bulan menikah sudah hamil dia.... Hemmmm

Kadang terpintas juga untuk mengikuti jejaknya, karenaa muka kami sama, sama-sama ala kadarnya. siapa tahu Nasib juga sama. Tapi buru-buru pikiran itu saya tepis jauh karena yang menolakku sudah nikah semua. Termasuk yang nikah sama tetanggaku tadi.... Hiks...hiks...hiks...

Kembali ke JT, organisasi itu bukan tanpa kekurangan, tapi konsistensi dan keterbukaan pada semua organisasi dalam berdakwah di 'akar rumput' tidak dapat di nafikan keberadaannya.

Mereka mengajari kita banyak hal, salah satunya "satu tindakan lebih berharga dari pada seribu perdebatan, sebagaimana satu lamaran lebih berharga daripada seribu gombalan" stuju, mbak bro?

Ditulis oleh Saudara Asmawi yang telah di publikasikan di Silahkan langsung Ke Sumber ya Facebook #awie

Ads Responsive
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Seorang yang ingin berbagi Pengetahuan dan informasi yang pernah terjadi pada diri sendiri dan orang lain yang dapat memotivasi kita dalam mengarungi bahtera hidup di Dunia dan Akhirat.

Related : Jamaah Tabligh, Dakwah Tanpa Pandang Madzhab